ANIMA | Ch. I

Chapter I – Genesis

Matanya terbuka, pupil aluminiumnya membuka dan menutup, berusaha menakar cahaya remang yang menerangi ruangan ini. Kedipan demi kedipan dilakukannya dengan perlahan. Tak lama, ia menggerakkan kepalanya. Pandangannya melompat kesana kemari, tak sabar ingin memahami ruang kamar yang bau ini. Rambut merahnya berkibas dalam setiap tolehannya. Mukanya segar, seperti seorang bayi yang baru saja melihat dunia.

Sedangkan rambutku kusut, beberapa helai rambut putih mengkilat terlihat jelas. Kantung mataku menghitam. Secangkir kopi tak lagi mampu mengangkat kelopak mataku. Nafasku bau, badanku penuh keringat. Aku tidak bisa menahan senyum, ia telah hidup.

“Ayo makan, Ka”

Dari bawah terdengar suara ibu, saatnya makan. Puas dengannya, separuh kuputar saklar tenaga di dadanya dan turun kebawah. Perlahan kepalanya merunduk. Terdiam, derum arus listrik menghiasi ruangan ini. Matanya sayu, irisnya bersinar hijau gelap. Dalam sekejap yang begitu lama, ia mengunduh segala informasi yang mampu didapatkannya dari awan diatas.

Kari ayam yang didampingi roti gandum. Kulahap makanan yang ada di meja seporsi dua porsi. Samar-samar terdengar dengung kepak sayap dari luar. Terlihat titik-titik cahaya yang muncul satu persatu, memberikan perpaduan warna neon yang mencolok mata. Kunang-kunang malam telah dilepaskan. Mata-mata kecil itu tampak mengawasi malam yang semakin gulita. Aku menutup gorden merah di samping meja makan, menolak memberikan privasi yang langka ini pada serangga bermuka dua itu. Helaan nafas terdengar dari mulut ibuku. Kami sudah memperdebatkan ini berulang kali, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Kembali ke kamarku ia masih duduk tersandar di ujung ruangan. Kini matanya tertutup. Semua yang mampu diserap telah diunduhnya. Kucabut kabel tenaganya dan melakukan kalibrasi akhir sebelum merangkak naik ke atas dipan. Sudah lama aku tidak menikmati malam yang tenang. Aku lupa tidur bisa terasa begitu nikmat

Continue reading “ANIMA | Ch. I”

Advertisements